PEMBELAJARAN REMIDI MELALUI TUTOR SEBAYA
KEGIATAN KELAS YANG MENYENANGKAN SISWA
Abstract: Understanding concept of
student in learning activity is shown by the score of mastery learning, either
individually or classically. If the score passing grade minimum standards, it
shows the formulated goals in a plan of teaching and learning are achieved. On
the other hand, when the passing echievement score are not reached the minimum,
its needed afforts improving leaning results. One of the efforts is to
implement remedial learning. Learning is intended to give enrichment and remedy
to students who find difficulties. The implementation of it can be done with
the peer teaching. Peer teaching through guiding comes from friends in class
who have heigher achievemnent. The tutorial is done in groups of 4-5 students.
At the end of tutor activity is peer assessment that aims to measure the
student’s anxiety. Teacher, in peer tutor acts as facilitator to learn
materials in group. Since guided friend by leading contemporary, the
completeness score can be improved so that the class atmosphere is very fun and
enjoyful so student are very anthusaistic to lear.
Keywords: understanding the
concept, repeated instruction, study groups, friends in the class.
PENDAHULUAN
Sebagaimana diketahui bersama
bahwa dalam setiap kegiatan pembelajaran masih sering terjadi kesenjangan
antara tujuan yang dirumuskan dengan hasil proses pembelajaran. Pembelajaran
bertujuan mengembangkan aktivitas siswa yang ditunjukkan dalam rumusan standar
kompetensi dan kompetensi dasar dalam rencana program pengajaran yang
diimplementasikan dalam indikator pencapaian hasil belajar siswa. Hasil proses
pembelajaran ditunjukkan oleh tingkat penguasaan dan daya serap siswa baik
individu maupun klasikal. Sitti Rahmawaty (2007) menyatakan bahwa daya serap siswa
sebagai ukuran ketuntasan belajar individu minimal 70 % sedangkan penguasaan klasikal
minimal 60 %. Untuk mencapai standar
ketuntasan minimal diperlukan cara-cara dan aktivitas yang dapat dilakukan
sehingga tujuan pembelajaran tercapai, dan jika memungkinkan skor siswa
bertambah rata-ratanya. (http://www.oke.or.id)
Aktivitas nyata yang dapat
dilakukan adalah menggunakan model–model pembelajaran yang bervariatif melalui
penggabungan berbagai model atau melakukan pengulangan pembelajaran sebagai
bentuk pengajaran remidi. Fakta dan data lain tentang proses pembelajaran
adalah banyak siswa yang nilai rata-rata ujian akhir nasional masih di bawah
standar kelulusan siswa. Berdasarkan
kenyataan ini setiap komponen yang terlibat dalam pembelajaran diharapkan
saling berkordinasi untuk meningkatkan nilai rata-rata ujian akhir nasional. Koordinasi yang baik berakibat tidak ada saling
menyalahkan di antara sesama komponen pembelajaran.
Menurut Sawali (2007) rendahnya rata-rata nilai ujian
yang dicapai oleh siswa disebabkan oleh tiga hal. Pertama, kurangnya
motivasi siswa untuk meraih nilai akademis yang tinggi. Hal itu disebabkan oleh
situasi dan kondisi pendidikan dalam lingkungan keluarga yang kurang mendukung.
Kedua, merebaknya sikap instan yang melanda kehidupan kaum remaja. Hal
ini disebabkan oleh adanya sikap permisif masyarakat yang cenderung membiarkan
berbagai perilaku anomali sosial berlangsung di tengah-tengah panggung
kehidupan sosial. Masyarakat yang seharusnya menjadi kekuatan kontrol untuk
ikut menanggulangi berbagai persoalan sosial yang kurang sehat cederung
bersikap permisif dan masa bodoh. Sikap instan yang ingin meraih sukses tanpa
kerja keras dinilai sebagai hal yang wajar terjadi. Ketiga, guru dinilai
kurang kreatif dalam melakukan inovasi pembelajaran, baik dalam pemilihan
materi ajar, metode pembelajaran, maupun media pembelajaran, sehingga siswa
cenderung pasif dan bosan dalam menghadapi suasana pembelajaran di kelas. Kelas
ibarat ”penjara” yang pengap dan sumpek; tanpa ada celah “kebebasan” bagi
peserta didik untuk menikmati kegiatan pembelajaran yang menarik dan
menyenangkan. Yang lebih mencemaskan adalah bahwa siswa bagaikan “tong sampah”
ilmu pengetahuan yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu, tanpa memiliki
kesempatan untuk melakukan pendalaman, refleksi, dan dialog.
Matematika merupakan mata pelajaran yang diujikan dalam
ujian akhir nasional di semua satuan pendidikan. Dengan adanya fakta dan
kenyataan rendahnya nilai rata-rata siswa, diperlukan sebuah inovasi
pembelajaran dan bahkan pengulangan materi di kelas menjadi sangat
penting. Di samping itu, pembelajaran
harus di arahkan agar dapat membangkitkan kreativitas siswa misalnya melalui
belajar kelompok. Dalam belajar kelompok, siswa dapat berdiskusi satu sama
lain, siswa dapat bertukar informasi dan siswa yang pintar dapat membantu siswa
yang kurang pintar. Untuk itu perlu dicari pemecahan masalah dalam menentukan
strategi pembelajaran yang tepat, dengan tetap mempertimbangkan kondisi-kondisi
dalam kelas. Semuanya dimaksudkan untuk memperoleh pendekatan pembelajaran yang
tepat bagi. Hal ini sesuai dengan
pendapat Aria Djalil ( 1997) yang menyatakan bahwa setiap saat siswa memerlukan bantuan dari siswa lainnya, dan siswa
dapat belajar dari siswa lainnya. Demikian
juga siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan karena dia bergaul dengan
teman lainnya.
Usaha-usaha dalam meningkatkan nilai
rata-rata ujian juga dapat dilakukan dengan tutor sebaya. Menurut Arikunto
(1996) tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk
oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan
sekelas. Kadangkala seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang
diberikan oleh kawannya karena tidak ada rasa enggan atau malu untuk
bertanya. Kelebihan dari pendekatan
tutor sebaya ini adalah dapat melatih siswa dalam memecahkan masalah, mengatasi
kesulitannya sendiri dan mampu membimbing diri sendiri. Selain itu karena tutor
berasal dari teman sekelasnya siswa tidak merasa malu atau segan untuk bertanya
apabila ada hal-hal yang kurang dimengerti dalam proses belajar-mengajar. Melalui
tutor sebaya membuat suasana pembelajaran menarik dan menyenangkan ketika.
Dalam pelaksanaannya siswa berdialog dan
berinteraksi dengan sesama siswa secara terbuka dan interaktif di bawah
bimbingan guru sehingga siswa terpacu untuk menguasai bahan ajar yang disajikan
sesuai dengan standar kompetensi lulusan.
Tutor sebaya pada umumnya dilakukan secara kelompok beranggotakan 5-6
siswa. Tutor sebaya adalah siswa di kelas tertentu yang memiliki kemampuan di
atas rata-rata anggotanya yang memiliki tugas untuk membantu mengatasi
kesulitan anggota dalam memahami materi ajar.
HAKEKAT
PEMBELAJARAN REMIDI
Pengertian
Pembelajaran
remidi merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk
memperbaiki prestasi belajar sehingga mencapai standar minimal ketuntasan yang
ditetapkan. Ahmad Sudrajat (2007) menyatakan bahwa untuk memahami konsep
penyelenggaraan model pembelajaran remedial, terlebih dahulu perlu diperhatikan
bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan yang diberlakukan berdasarkan peraturan
Menteri Pendidikan Nasional nomor 22, 23, dan 24 tahun 2006 dan peraturan
Menteri Pendidikan Nasional nomor 6 tahun 2007
dengan menerapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem belajar
tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual peserta
didik. (http://www.Ahmadsudrajat.wordpress.com) Sistem tersebut
ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai
peserta didik. Penguasaan standar kompetensi dan kompetensi dasar setiap siswa diukur
dengan menggunakan sistem penilaian acuan kriteria. Siswa yang mencapai standar
tertentu dinyatakan telah mencapai ketuntasan.
Pelaksanaan
pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, dimulai dari
penilaian kemampuan awal siswa terhadap kompetensi atau materi yang dipelajari.
Kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode yang
sesuai dengan topik pembelajaran, misalnya untuk matematika dengan menggunakan
metode diskusi, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, inkuiri, atau
metode penemuan. Untuk melengkapi metode pembelajaran dapat digunakan berbagai
media, misalnya audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format. Format
yang digunakan mulai dari kaset audio, slide, video, LCD, komputer, atau multimedia.
Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang
berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan
berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar
serta seberapa jauh penguasaan siswa terhadap kompetensi yang telah atau sedang
dipelajari.
Pada akhir
program pembelajaran diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan
harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar siswa,
apakah seorang siswa gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan tertentu
yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan. Apabila dijumpai ada siswa yang tidak mencapai penguasaan kompetensi
yang telah ditentukan, maka muncul permasalahan mengenai apa yang harus
dilakukan oleh pendidik. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pemberian
program pembelajaran remedial atau perbaikan. Dengan kata lain, pembelajaran remedial
diperlukan bagi siswa yang belum mencapai kemampuan minimal yang ditetapkan
dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Pemberian program pembelajaran remedial
didasarkan atas latar belakang bahwa pendidik perlu memperhatikan perbedaan
individual siswa.
Pembelajaran
remidi yang diberikan kepada siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan
belajar, memerlukan waktu lebih lama dibandingkan dengan siswa yang telah
mencapai tingkat penguasaan. Dalam hal
lain siswa perlu menempuh penilaian kembali setelah mendapatkan program
pembelajaran remedi.
Pembelajaran remidi merupakan pemberian
perlakuan khusus terhadap siswa yang mengalami hambatan dalam kegiatan
belajarnya. Hambatan yang terjadi dapat berupa kurangnya pengetahuan
dan keterampilan prasyarat atau lambat dalam mecapai kompetensi. Prinsip yang
perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedi sesuai dengan sifatnya sebagai
pelayanan khusus adalah adaptif, interaktif,
fleksibilitas, pemberian umpan
balik sesegera mungkin, dan
berkesinambungan dalam pemberian pelayanan.
Adaptif dimaksudkan karena setiap siswa bersifat unik. Oleh
karena itu program pembelajaran remedi hendaknya memungkinkan siswa untuk
belajar sesuai dengan kecepatan, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing.
Dengan kata lain, pembelajaran remedi harus mengakomodasi perbedaan individual siswa.
Interaktif dimaksudkan karena pembelajaran remedi hendaknya memungkinkan
siswa untuk secara intensif berinteraksi dengan pendidik dan sumber belajar
yang tersedia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa kegiatan belajar siswa
yang bersifat perbaikan perlu selalu mendapatkan monitoring dan pengawasan agar
diketahui kemajuan belajarnya. Jika dijumpai ada peserta didik yang mengalami
kesulitan segera diberikan bantuan. Fleksibilitas dalam Metode Pembelajaran
dan Penilaian, artinya sejalan dengan sifat keunikan dan kesulitan belajar siswa
yang berbeda-beda, maka dalam pembelajaran remedi perlu digunakan berbagai
metode mengajar dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik siswa.
Pemberian Umpan Balik Sesegera Mungkin berupa informasi yang diberikan
kepada siswa mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin.
Umpan balik dapat bersifat korektif maupun konfirmatif. Dengan sesegera mungkin
memberikan umpan balik dapat dihindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut
yang dialami siswa. Kesinambungan dan Ketersediaan dalam Pemberian Pelayanan
lebih menekankan bahwa pembelajaran remedi merupakan satu kesatuan. Dengan
demikian program pembelajaran reguler dengan remedi harus berkesinambungan dan
programnya selalu tersedia agar setiap saat siswa dapat mengakses sesuai dengan
kesempatan.
Pembelajaran
remidi pada hakikatnya adalah pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan atau kelambatan
belajar. Sehubungan dengan itu, langkah-langkah yang perlu dikerjakan dalam
pemberian pembelajaran remedi meliputi dua langkah pokok, yaitu mendiagnosis
kesulitan belajar, dan memberikan perlakuan pembelajaran remedi. Diagonosis
kesulitan belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar siswa.
Kesulitan belajar dapat dibedakan menjadi kesulitan ringan, sedang dan berat. Kesulitan belajar ringan biasanya dijumpai
pada siswa yang kurang perhatian pada saat mengikuti pembelajaran. Kesulitan
belajar sedang dijumpai pada siswa yang mengalami gangguan belajar yang berasal
dari luar dirinya, misalnya faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal,
pergaulan. Kesulitan belajar berat dijumpai pada siswa yang mengalami ketunaan
pada diri mereka, misalnya tuna rungu, tuna netra¸tuna daksa, dan tuna grahita.
Teknik yang
dapat digunakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar antara lain: Tes prasyarat
adalah tes yang digunakan untuk mengetahui apakah prasyarat yang diperlukan
untuk mencapai penguasaan kompetensi tertentu sudah terpenuhi atau belum. Prasyarat
ini meliputi prasyarat pengetahuan dan prasyarat keterampilan. Tes diagnostik
digunakan untuk mengetahui kesulitan siswa dalam menguasai kompetensi tertentu.
Misalnya dalam mempelajari operasi bilangan, apakah peserta didik mengalami
kesulitan pada kompetensi penambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian. Wawancara
dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan siswa untuk menggali lebih
dalam mengenai kesulitan belajar yang dijumpai peserta didik. Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat secara cermat
perilaku belajar siswa. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui
jenis dan penyebab kesulitan belajar siswa.
Bentuk
Pelaksanaan Pembelajaran Remidi
Setelah
diketahui kesulitan belajar yang dihadapi siswa, langkah berikutnya adalah
memberikan perlakuan berupa pembelajaran remidi. Bentuk-bentuk pelaksanaan
pembelajaran remedial adalah sebagai berikut.
Pertama
adalah pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda. Pembelajaran
ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan materi, variasi cara
penyajian, penyederhanaan tes atau pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan
bilamana sebagian besar atau semua siswa belum mencapai ketuntasan belajar atau
mengalami kesulitan belajar. Pendidik
perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode dan/atau media
yang lebih tepat.
Kedua adalah pemberian bimbingan
secara khusus, misalnya bimbingan perorangan. Dalam hal pembelajaran klasikal siswa
yang mengalami kesulitan, perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa
pemberian bimbingan secara individual. Pemberian bimbingan perorangan merupakan
implikasi peran pendidik sebagai tutor. Sistem tutorial dilaksanakan bilamana
terdapat satu atau beberapa siswa yang belum berhasil mencapai ketuntasan.
Ketiga adalah memberikan tugas-tugas
latihan secara khusus. Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas
latihan perlu diperbanyak agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam
mengerjakan tes akhir. Siswa perlu diberi drill untuk membantu menguasai kompetensi yang
ditetapkan.
Keempat pemanfaatan tutor sebaya.
Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka
perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami kelambatan
belajar. Dengan teman sebaya diharapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar
akan lebih terbuka dan akrab.
Waktu pelaksanaan pembelajaran
remidi mempunyai beberapa alternatif. Pertanyaan yang timbul, apakah
pembelajaran remidi diberikan pada setiap akhir ulangan harian, mingguan, akhir
bulan, tengah semester, atau akhir semester. Ataukah pembelajaran remidi
diberikan setelah siswa mempelajari standar kompetensi atau kompetensi dasar
tertentu? Pembelajaran remidi dapat diberikan setelah siswa mempelajari komptensi
dasar tertentu. Namun, karena dalam
setiap standar kompetensi terdapat beberapa kompetensi dasar, maka terlalu sulit bagi pendidik untuk
melaksanakan pembelajaran remidi setiap selesai mempelajari kompetensi dasar tertentu.
Mengingat indikator keberhasilan belajar siswa adalah tingkat ketuntasan dalam
mencapai standar kompetensi yang terdiri dari beberapa kompetensi dasar, maka
pembelajaran remedial dapat juga diberikan setelah siswa menempuh tes standar
kompetensi yang terdiri dari beberapa kompetensi dasar. Hal ini didasarkan atas
pertimbangan bahwa standar kompetensi merupakan satu kebulatan kemampuan yang
terdiri dari beberapa kompetensi dasar. Mereka yang belum mencapai penguasaan standar
kompetensi tertentu perlu mengikuti program pembelajaran remidi. Hasil belajar
yang menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi melalui penilaian diperoleh dari
penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses diperoleh melalui
postes, tes kinerja, observasi, dan lain-lain, sedangkan penilaian hasil
diperoleh melalui ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir
semester.
Sitem
Tutor Sebaya
Istilah lain tutor sebaya adalah
peer tutoring. Ahli-ahli pendidikan yang memelopori tutor sebaya adalah Edward
L. Dejnozken dan David E. Kopel. Dalam American Education Encyclopedia disebutkan bahwa tutorial sebaya adalah sebuah prosedur siswa mengajar kepada
siswa lainnya. Karena siswa berperan aktif pada siswa lainnya, maka tipe
pelaksanaannya mempunyai beberapa jenis. Pertama, pengajar dan pembelajar
usianya sama. Kedua pengajar berusia lebih tua dari pembelajar. Ketiga dimunculkan pertukaran usia pengajar.
Muntasir (1985) mengemukakan
bahwa tutor berfungsi sebagai tukang atau pelaksana mengajar yang cara
mengajarnya telah disiapkan secara khusus dan terperinci. Untuk menghidupkan
suasana kompetitif, setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok
yang terbaik. Oleh karena itu, selain aktivitas anggota kelompok,
peran ketua kelompok atau tutor sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan
kelompok dalam mempelajari materi ajar yang disajikan. Ketua kelompok dipilih
secara demokratis oleh seluruh siswa. Misalnya, jika di suatu kelas terdapat 46
siswa, berarti ada 9 kelompok dengan catatan ada satu kelompok yang terdiri
atas 6 siswa. Sebelum diskusi kelompok terbentuk, siswa perlu mengajukan calon
tutor. Seorang tutor hendaknya memiliki kriteria memiliki kemampuan akademis di
atas rata-rata siswa satu kelas, mampu menjalin kerja sama dengan sesama siswa,
memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi akademis yang baik, memiliki
sikap toleransi dan tenggang rasa dengan sesama, memiliki motivasi tinggi untuk
menjadikan kelompok diskusinya sebagai yang terbaik, bersikap rendah hati,
pemberani, dan bertanggung jawab, dan suka membantu sesamanya yang mengalami
kesulitan.
Tutor
atau ketua kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memberikan tutorial kepada anggota terhadap
materi ajar yang sedang dipelajari,
mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis, menyampaikan permasalahan kepada guru
pembimbing apabila ada materi ajar yang belum dikuasai, menyusun jadwal diskusi bersama anggota
kelompok, baik pada saat tatap muka di kelas maupun di luar kelas, secara rutin
dan insidental untuk memecahkan masalah yang dihadapi, dan melaporkan
perkembangan akademis kelompoknya kepada guru pembimbing pada setiap materi
yang dipelajari.
Peran
guru dalam metode diskusi kelompok terbimbing model tutor sebaya hanyalah
sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, guru hanya melakukan
intervensi ketika betul-betul diperlukan oleh siswa. Fungsi lainnya adalah
dengan adanya tutor sebaya siswa yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak
malu lagi untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas.
Sebagaimana
diungkapkan oleh Muntasir bahwa dengan pergaulan antara para tutor dengan
siswanya mereka dapat mewujudkan apa yang terpendam dalam hatinya dan
khayalannya. Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk
membantu memenuhi kebutuhan siswa. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan
kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik
yang bekerja sama.
Tutor
sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya.
Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas
tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “tutor sebaya”,
peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan,
berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna.
Penjelasan tutor sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil
dibandingkan guru. Siswa melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan
orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab. Jadi sistem pengajaran
dengan tutor sebaya akan membantu siswa yang kurang mampu atau kurang
cepat menerima pelajaran dari gurunya. Kegiatan tutor sebaya bagi siswa
merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang sebenarnya merupakan
kebutuhan siswa itu sendiri. Baik tutor maupun yang ditutori sama-sama
diuntungkan, bagi tutor akan mendapat pengalaman, sedangkan yang ditutori akan lebih kreatif dalam
menerima pelajaran.
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas, dan hasil pengamatan penulis di di lapangan,
meyakinkan penulis untuk menerapkan tutor sebaya dalam pembelajaran di sekolah.
Hal ini akan memudahkan siswa untuk mengeluarkan pendapat atau pikiran
dan kesulitan kepada temannya sendiri daripada kepada guru, siswa lebih sungkan
dan malu. Hal tersebut dimungkinkan karena di antara siswa telah terbentuk
bahasa mereka sendiri, tingkah laku, dan juga pertanyaan perasaaan yang
dapat diterima oleh semua siswa.
Selain
peer tutoring, juga harus dilakukan peer assessment yaitu penilaian kegiatan
siswa oleh tutornya, tentu saja dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan
sebelumnya. Metode ini dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang
memiliki daya serap yang tinggi. Siswa tersebut mengajarkan materi dan latihan
soal kepada teman-temannya di kelas. Metode ini banyak sekali manfaatnya baik
dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang diajar.
Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi
pengarahan, bimbingan, atau penjelasan bila diperlukan. Meskipun demikian harus
diperhatikan oleh guru bahwa metode tutor sebaya memiliki kelemahan, yaitu
tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya dan tidak semua siswa dapat
menjelaskan kepada temannya dan tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan
temannya. Berdasarkan paparan di atas, program
tutorial pada dasarnya sama dengan program bimbingan, yang bertujuan memberikan
bantuan kepada siswa agar dapat mencapai hasil belajar secara optimal.
Hamalik (1990) menyatakan bahwa tutorial
adalah bimbingan pembelajaran dalam bentuk pemberian bimbingan, bantuan,
petunjuk, arahan, dan motivasi agar para siswa belajar secara efisien dan
efektif. Subyek atau tenaga yang
memberikan bimbingan dalam kegiatan tutorial dikenal sebagai tutor. Tutor
dapat berasal dari guru atau pengajar, pelatih, pejabat struktural, atau bahkan
siswa yang dipilih dan ditugaskan guru untuk membantu teman-temannya dalam
belajar di kelas. Siswa yang dipilih guru adalah teman sekelas yang memiliki
kemampuan lebih cepat memahami materi yang diajarkan, selain itu juga memiliki
kemampuan menjelaskan ulang materi yang diajarkan pada teman-temannya. Karena
siswa yang dipilih menjadi tutor ini dengan teman-temannya yang akan diberikan
bantuan itu sebaya, maka tutor tersebut sering dikenal dengan sebutan tutor
sebaya. Untuk menentukan seorang tutor ada beberapa kriteria yang harus
dimiliki oleh seorang siswa yaitu siswa yang dipilih nilai prestasi belajar
matematikanya lebih besar atau sama degan delapan, dapat memberikan bimbingan
dan penjelasan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan memiliki
kesabaran serta kemampuan memotivasi siswa dalam belajar.
Hal ini
sesuai dengan pendapat Noorhayati (2007) yang menyatakan bahwa dalam memilih tutor hendaknya memperhatikan
tutor dapat diterima oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa
tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepadanya, tutor dapat
menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program
perbaikan, tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan,
tutor mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu
dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya, siswa yang ditunjuk sebagai tutor
akan ditugasi membantu siswa yang akan mendapat program perbaikan, sehingga
setiap tutor harus diberikan petunjuk yang sejelas-jelasnya tentang apa yang
harus dilakukan. Petunjuk ini memang mutlak diperlukan bagi setiap tutor karena
hanya gurulah yang mengetahui kekurangan siswa, sedangkan tutor hanya membantu
melaksanakan perbaikan, bukan mendiagnosis.
Para tutor dilatih untuk mengajarkan bahan berdasarkan
silabus yang telah ditentukan. Hubungan antara tutor dengan siswa adalah
hubungan antar kakak-adik atau antar kawan, kekakuan yang ada pada guru agar
dihilangkan. Dalam kegiatan tutor sebaya, guru menjadi semacam staf ahli yang
mampu mengatasi kesulitan yang dihadapai siswa. Good ( dalam
Muntasir 1985) menyatakan bahwa tutor juga dapat menjadi alat untuk menimbulkan
motivasi pada pelajaran bermutu. Tutor ini juga memperoleh keuntungan berupa
nilai pelajaran yang bertambah baik, sama dengan yang ditutori, terutama kalau
fokusnya pada kemampuan kognitif.
Pendekatan
tutor sebaya adalah suatu pendekatan pembelajaran di mana yang melakukan
kegiatan pembelajaran adalah siswa itu sendiri. Siswa yang memiliki kemampuan
lebih cepat menyerap materi pelajaran dapat membantu siswa yang kurang cepat
menyerap materi pelajaran. Karena memiliki usia yang hampir sebaya, adakalanya
seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawannya yang
lain karena tidak merasa enggan atau malu untuk bertanya. Pendekatan tutor
sebaya ini cocok untuk mengajarkan matematika, terutama dalam menyelesaikan
soal-soal cerita operasi bilangan pecahan. Apabila pendekatan ini digunakan
oleh guru secara baik dengan memberikan bimbingan terlebih dahulu kepada siswa
yang akan menjadi tutor, maka pendekatan tutor sebaya ini dapat membantu siswa
dalam memahami materi operasi bilangan pecahan, sehingga kemampuan siswa dalam
menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan dapat ditingkatkan.
Hamalik (1998) menyatakan tahap-tahap kegiatan
pembelajaran di kelas dengan menggunakan pendekaatan tutor sebaya terdiri
dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan,
dan tahap evaluasi. Pada tahap persiapan guru melakukan kegiatan sebagai
berikut. Pertama, guru membuat program pengajaran satu pokok bahasan yang
dirancang dalam bentuk penggalan-penggalan sub pokok bahasan. Setiap penggalan
satu pertemuan yang didalamnya mencakup judul penggalan tujuan pembelajaran,
khususnya petunjuk pelaksanaan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Kedua, menentukan
beberapa orang siswa yang memenuhi kriteria sebagai tutor sebaya. Jumlah tutor
sebaya yang di tunjuk disesuaikan dengan jumlah kelompok yang dibentuk. Ketiga,
mengadakan latihan bagi para tutor. Dalam pelaksanaan tutorial atau bimbingan
ini, siswa yang menjadi tutor bertindak sebagai guru. Sehingga latihan yang
diadakan oleh guru merupakan semacam pendidikan guru atau siswa itu. Latihan di
adakan dengan dua cara yaitu melalui latihan kelompok kecil dimana dalam hal
ini yang mendapatkan latihan hanya siswa yang akan menjadi tutor, dan melalui
latihan klasikal, di mana siswa seluruh kelas dilatih bagaimana proses
pembimbingan ini berlangsung. Keempat, mengelompokan siswa dalam
kelompok-kelompok kecil yang yang terdiri atas 4-6 orang. Kelompok ini disusun
berdasarkan variasi tingkat kecerdasan siswa.
Pada tahap pelaksanaan guru memberikan penjelasan terlebih dahulu
tentang materi yang di ajarkan, siswa belajar dalam kelompoknya sendiri. Tutor
sebaya menanyai anggota kelompoknya secara bergantian akan hal-hal yang belum
dimengerti, demikian pula halnya dengan menyelesaikan tugas. Jika ada masalah
yang tidak diselesaikan barulah tutor meminta bantuan guru, dan curu mengawasi
jalannya proses belajar, guru berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok
yang lain untuk memberikan bantuan jika ada masalah yang tidak dapat
diselesaikan dalam kelompoknya. Pada tahap evaluasi, sebelum kegiatan pembelajaran
berakhir, guru memberikan soal-soal latihan kepada anggota kelompok (selain
tutor) untuk mengetahui apakah tutor sudah menjelaskan tugasnya atau belum, dan
mengingatkan siswa untuk mempelajari sub pokok bahasan sebelumnya di rumah.
Integrasi
Pembelajaran Remidi dengan Tutor Sebaya
Belajar adalah suasana hati. Hati yang senang membuat siswa mempunyai
kemauan dan motivasi yang tinggi untuk memahami konsep sehingga dengan cara
yang tidak memaksakan akan tercipta ketuntasan minimal, baik untuk siswa maupun
kelas. Belajar yang menyenangkan tersebut dapat dilakukan dengan model
pembimbingan tutor sebaya yang dilakukan dalam pembelajaran remidi. Secara umum
langkah yang ditempuh adalah (1) Dalam sebuah pembelajaran kelas tentukan
berapa banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar atau belum mencapai
ketuntasan minimal. (2) Dipilih dalam
kelas, siswa yang kemampuannya di atas rata-rata kelas dan bertugas sebagai
tutor bagi teman-teman dalam kelas yang masih mengalami kesulitan. (3) Dibuat kelompok dalam kelas yang
anggotanya 4-5 siswa dan merupakan
sisw-iswa yang belum mencapai ketuntasan belajar. (4) Ditentukan dalam kelompok
masing-masing satu orang tutor yang bertugas melakukan pembimbingan kelompok,
dan tutor terlebih dahulu mendapat penjelasan seperlunya dari guru sebagai
fasilitator. (5) Tutor melakukan pembimbingan berulang-ulang sehingga anggota
dalam kelompok betul-betul memahami konsep yang diberikan. (6) Tutor melakukan
tes sebagai langkah akhir dalam pembelajaran
yang soal-soal tes ditentukan dan koordinasikan dengan guru (7) Jika
dalam evaluasi masih ada anggota kelompok yang belum mencapai ketuntasan
belajar, maka tugas tutor adalah melakukan penjelasan secara remidi.
IMPLIKASI
YANG DIHARAPKAN
Model
pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran remidial dengan tutor sebaya berimplikasi pada
prestasi siswa terutama pada persoalan-persoalan analisis maupun problem
posing. Artinya, siswa yang sulit
menyelesaikan secara mandiri, dengan cara berkelompok yang dibimbing tutor teman dalam kelas dapat dilakukan
penyelasaiannya. Khusus yang berkaitan dengan problem posing adalah bagaimana
siswa dapat menyusun pertanyaan dan membuat soal berdasarkan data atau
permasalahan yang diberikan.
Menurut hasil penelitian Akrom (2006), Sitti Rahmawati (2006), Rofiqoh
Nurhayati (2009), Sobari Mizan (2006),
Ahmad Sudrajat (2008), dengan melakukan
modifikasi pembelajaran remidi dengan tutor sebaya hasil belajar siswa yang
ditunjukkan oleh skor ketuntasan individu maupun klasikal mengalami peningkatan secara signifikan. Meskipun ada
beberapa kendala yang harus dierhatikan oleh guru bahwa tidak semua pertanyaan
dapat dijawab oleh siswa dan tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan
kelompok-kelompok yang dibentuk dalam kelas.
DAFTAR
RUJUKAN
_________2008.
Pembelajaran Remedial. (online), (http://www,dikmenum.go.id,
diakses tanggal 9 Mei 2009)
Ahmad Sudrajat. 2008. Pembelajaran Remedial dalam KTSP.
(online), (http://ahmadsudrajat.wordpress.com , diakses 4
Mei 2009).
Arkom. 2004. Penerapan Metode Tutor Sebaya dalam Pembelajaran di SMK.
Makalah: Tidak
Dipubilkasikan.
Boon R. 2005.
Remidiation of Reading,
Spelling, and Comprehension. Sidney:
Harris Park
Departemen
Pendidikan Nasional, 2008. Sistem Penilaian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Panduuan Pembelajaran Remidial.
Jakarta: Depdiknas.
Djalil Aria dkk. 1997. Pembelajaran Kelas Rangkap. Jakarta : Depdikbud.
M. Saleh Muntasir, 1985. Pengajaran Terprogram.
Jogjakarta: Karya Anda.
PP Nomor 22 tahun 2006 : Standar Kompetensi Kelulusan Pendidikan Dasar
dan Menengah.
Rienties B, Martin
Rehm, and J Dijktra, 2005. Remedial
online Teaching in Theory and Practice, Netherland: Maastricht University Publ.
Rofiqoh Noorhayati, 2009. Meningkatkan kemampuan Siswa
dalam Menyelesaikan Soal-soal Cerita Operasi Bilangan Pecahan dengan
Menggunakan Pendekatan Tutor Sebaya pada kelas VIIA SMP Negeri 3 Palangga.
(online), (http://www.pendidikan-matematika.blogspot.com, diakses
tanggal 10 Mei 2009).
Sawali,2007. Diskusi Kelompok
Terbimbing Model Tutorial Sebaya. (online), (http://sawali.info/2007,
diakses tanggal 3 Mei 2009)
Sitti Rahmawati. 2008. Peningkatan
Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPA.7 terhadap Redoks dan Elektrokimia dengan
Menggunakan Sistem Tutor Sebaya. (online), (http://oke.or.id, diakses
tanggal 5 Mei 2008).
PEMBELAJARAN REMIDI MELALUI TUTOR SEBAYA
KEGIATAN KELAS YANG MENYENANGKAN SISWA
Abstract: Understanding concept of
student in learning activity is shown by the score of mastery learning, either
individually or classically. If the score passing grade minimum standards, it
shows the formulated goals in a plan of teaching and learning are achieved. On
the other hand, when the passing echievement score are not reached the minimum,
its needed afforts improving leaning results. One of the efforts is to
implement remedial learning. Learning is intended to give enrichment and remedy
to students who find difficulties. The implementation of it can be done with
the peer teaching. Peer teaching through guiding comes from friends in class
who have heigher achievemnent. The tutorial is done in groups of 4-5 students.
At the end of tutor activity is peer assessment that aims to measure the
student’s anxiety. Teacher, in peer tutor acts as facilitator to learn
materials in group. Since guided friend by leading contemporary, the
completeness score can be improved so that the class atmosphere is very fun and
enjoyful so student are very anthusaistic to lear.
Keywords: understanding the
concept, repeated instruction, study groups, friends in the class.
PENDAHULUAN
Sebagaimana diketahui bersama
bahwa dalam setiap kegiatan pembelajaran masih sering terjadi kesenjangan
antara tujuan yang dirumuskan dengan hasil proses pembelajaran. Pembelajaran
bertujuan mengembangkan aktivitas siswa yang ditunjukkan dalam rumusan standar
kompetensi dan kompetensi dasar dalam rencana program pengajaran yang
diimplementasikan dalam indikator pencapaian hasil belajar siswa. Hasil proses
pembelajaran ditunjukkan oleh tingkat penguasaan dan daya serap siswa baik
individu maupun klasikal. Sitti Rahmawaty (2007) menyatakan bahwa daya serap siswa
sebagai ukuran ketuntasan belajar individu minimal 70 % sedangkan penguasaan klasikal
minimal 60 %. Untuk mencapai standar
ketuntasan minimal diperlukan cara-cara dan aktivitas yang dapat dilakukan
sehingga tujuan pembelajaran tercapai, dan jika memungkinkan skor siswa
bertambah rata-ratanya. (http://www.oke.or.id)
Aktivitas nyata yang dapat
dilakukan adalah menggunakan model–model pembelajaran yang bervariatif melalui
penggabungan berbagai model atau melakukan pengulangan pembelajaran sebagai
bentuk pengajaran remidi. Fakta dan data lain tentang proses pembelajaran
adalah banyak siswa yang nilai rata-rata ujian akhir nasional masih di bawah
standar kelulusan siswa. Berdasarkan
kenyataan ini setiap komponen yang terlibat dalam pembelajaran diharapkan
saling berkordinasi untuk meningkatkan nilai rata-rata ujian akhir nasional. Koordinasi yang baik berakibat tidak ada saling
menyalahkan di antara sesama komponen pembelajaran.
Menurut Sawali (2007) rendahnya rata-rata nilai ujian
yang dicapai oleh siswa disebabkan oleh tiga hal. Pertama, kurangnya
motivasi siswa untuk meraih nilai akademis yang tinggi. Hal itu disebabkan oleh
situasi dan kondisi pendidikan dalam lingkungan keluarga yang kurang mendukung.
Kedua, merebaknya sikap instan yang melanda kehidupan kaum remaja. Hal
ini disebabkan oleh adanya sikap permisif masyarakat yang cenderung membiarkan
berbagai perilaku anomali sosial berlangsung di tengah-tengah panggung
kehidupan sosial. Masyarakat yang seharusnya menjadi kekuatan kontrol untuk
ikut menanggulangi berbagai persoalan sosial yang kurang sehat cederung
bersikap permisif dan masa bodoh. Sikap instan yang ingin meraih sukses tanpa
kerja keras dinilai sebagai hal yang wajar terjadi. Ketiga, guru dinilai
kurang kreatif dalam melakukan inovasi pembelajaran, baik dalam pemilihan
materi ajar, metode pembelajaran, maupun media pembelajaran, sehingga siswa
cenderung pasif dan bosan dalam menghadapi suasana pembelajaran di kelas. Kelas
ibarat ”penjara” yang pengap dan sumpek; tanpa ada celah “kebebasan” bagi
peserta didik untuk menikmati kegiatan pembelajaran yang menarik dan
menyenangkan. Yang lebih mencemaskan adalah bahwa siswa bagaikan “tong sampah”
ilmu pengetahuan yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu, tanpa memiliki
kesempatan untuk melakukan pendalaman, refleksi, dan dialog.
Matematika merupakan mata pelajaran yang diujikan dalam
ujian akhir nasional di semua satuan pendidikan. Dengan adanya fakta dan
kenyataan rendahnya nilai rata-rata siswa, diperlukan sebuah inovasi
pembelajaran dan bahkan pengulangan materi di kelas menjadi sangat
penting. Di samping itu, pembelajaran
harus di arahkan agar dapat membangkitkan kreativitas siswa misalnya melalui
belajar kelompok. Dalam belajar kelompok, siswa dapat berdiskusi satu sama
lain, siswa dapat bertukar informasi dan siswa yang pintar dapat membantu siswa
yang kurang pintar. Untuk itu perlu dicari pemecahan masalah dalam menentukan
strategi pembelajaran yang tepat, dengan tetap mempertimbangkan kondisi-kondisi
dalam kelas. Semuanya dimaksudkan untuk memperoleh pendekatan pembelajaran yang
tepat bagi. Hal ini sesuai dengan
pendapat Aria Djalil ( 1997) yang menyatakan bahwa setiap saat siswa memerlukan bantuan dari siswa lainnya, dan siswa
dapat belajar dari siswa lainnya. Demikian
juga siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan karena dia bergaul dengan
teman lainnya.
Usaha-usaha dalam meningkatkan nilai
rata-rata ujian juga dapat dilakukan dengan tutor sebaya. Menurut Arikunto
(1996) tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk
oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan
sekelas. Kadangkala seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang
diberikan oleh kawannya karena tidak ada rasa enggan atau malu untuk
bertanya. Kelebihan dari pendekatan
tutor sebaya ini adalah dapat melatih siswa dalam memecahkan masalah, mengatasi
kesulitannya sendiri dan mampu membimbing diri sendiri. Selain itu karena tutor
berasal dari teman sekelasnya siswa tidak merasa malu atau segan untuk bertanya
apabila ada hal-hal yang kurang dimengerti dalam proses belajar-mengajar. Melalui
tutor sebaya membuat suasana pembelajaran menarik dan menyenangkan ketika.
Dalam pelaksanaannya siswa berdialog dan
berinteraksi dengan sesama siswa secara terbuka dan interaktif di bawah
bimbingan guru sehingga siswa terpacu untuk menguasai bahan ajar yang disajikan
sesuai dengan standar kompetensi lulusan.
Tutor sebaya pada umumnya dilakukan secara kelompok beranggotakan 5-6
siswa. Tutor sebaya adalah siswa di kelas tertentu yang memiliki kemampuan di
atas rata-rata anggotanya yang memiliki tugas untuk membantu mengatasi
kesulitan anggota dalam memahami materi ajar.
HAKEKAT
PEMBELAJARAN REMIDI
Pengertian
Pembelajaran
remidi merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk
memperbaiki prestasi belajar sehingga mencapai standar minimal ketuntasan yang
ditetapkan. Ahmad Sudrajat (2007) menyatakan bahwa untuk memahami konsep
penyelenggaraan model pembelajaran remedial, terlebih dahulu perlu diperhatikan
bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan yang diberlakukan berdasarkan peraturan
Menteri Pendidikan Nasional nomor 22, 23, dan 24 tahun 2006 dan peraturan
Menteri Pendidikan Nasional nomor 6 tahun 2007
dengan menerapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem belajar
tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual peserta
didik. (http://www.Ahmadsudrajat.wordpress.com) Sistem tersebut
ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai
peserta didik. Penguasaan standar kompetensi dan kompetensi dasar setiap siswa diukur
dengan menggunakan sistem penilaian acuan kriteria. Siswa yang mencapai standar
tertentu dinyatakan telah mencapai ketuntasan.
Pelaksanaan
pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, dimulai dari
penilaian kemampuan awal siswa terhadap kompetensi atau materi yang dipelajari.
Kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode yang
sesuai dengan topik pembelajaran, misalnya untuk matematika dengan menggunakan
metode diskusi, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, inkuiri, atau
metode penemuan. Untuk melengkapi metode pembelajaran dapat digunakan berbagai
media, misalnya audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format. Format
yang digunakan mulai dari kaset audio, slide, video, LCD, komputer, atau multimedia.
Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang
berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan
berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar
serta seberapa jauh penguasaan siswa terhadap kompetensi yang telah atau sedang
dipelajari.
Pada akhir
program pembelajaran diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan
harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar siswa,
apakah seorang siswa gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan tertentu
yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan. Apabila dijumpai ada siswa yang tidak mencapai penguasaan kompetensi
yang telah ditentukan, maka muncul permasalahan mengenai apa yang harus
dilakukan oleh pendidik. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pemberian
program pembelajaran remedial atau perbaikan. Dengan kata lain, pembelajaran remedial
diperlukan bagi siswa yang belum mencapai kemampuan minimal yang ditetapkan
dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Pemberian program pembelajaran remedial
didasarkan atas latar belakang bahwa pendidik perlu memperhatikan perbedaan
individual siswa.
Pembelajaran
remidi yang diberikan kepada siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan
belajar, memerlukan waktu lebih lama dibandingkan dengan siswa yang telah
mencapai tingkat penguasaan. Dalam hal
lain siswa perlu menempuh penilaian kembali setelah mendapatkan program
pembelajaran remedi.
Pembelajaran remidi merupakan pemberian
perlakuan khusus terhadap siswa yang mengalami hambatan dalam kegiatan
belajarnya. Hambatan yang terjadi dapat berupa kurangnya pengetahuan
dan keterampilan prasyarat atau lambat dalam mecapai kompetensi. Prinsip yang
perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedi sesuai dengan sifatnya sebagai
pelayanan khusus adalah adaptif, interaktif,
fleksibilitas, pemberian umpan
balik sesegera mungkin, dan
berkesinambungan dalam pemberian pelayanan.
Adaptif dimaksudkan karena setiap siswa bersifat unik. Oleh
karena itu program pembelajaran remedi hendaknya memungkinkan siswa untuk
belajar sesuai dengan kecepatan, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing.
Dengan kata lain, pembelajaran remedi harus mengakomodasi perbedaan individual siswa.
Interaktif dimaksudkan karena pembelajaran remedi hendaknya memungkinkan
siswa untuk secara intensif berinteraksi dengan pendidik dan sumber belajar
yang tersedia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa kegiatan belajar siswa
yang bersifat perbaikan perlu selalu mendapatkan monitoring dan pengawasan agar
diketahui kemajuan belajarnya. Jika dijumpai ada peserta didik yang mengalami
kesulitan segera diberikan bantuan. Fleksibilitas dalam Metode Pembelajaran
dan Penilaian, artinya sejalan dengan sifat keunikan dan kesulitan belajar siswa
yang berbeda-beda, maka dalam pembelajaran remedi perlu digunakan berbagai
metode mengajar dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik siswa.
Pemberian Umpan Balik Sesegera Mungkin berupa informasi yang diberikan
kepada siswa mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin.
Umpan balik dapat bersifat korektif maupun konfirmatif. Dengan sesegera mungkin
memberikan umpan balik dapat dihindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut
yang dialami siswa. Kesinambungan dan Ketersediaan dalam Pemberian Pelayanan
lebih menekankan bahwa pembelajaran remedi merupakan satu kesatuan. Dengan
demikian program pembelajaran reguler dengan remedi harus berkesinambungan dan
programnya selalu tersedia agar setiap saat siswa dapat mengakses sesuai dengan
kesempatan.
Pembelajaran
remidi pada hakikatnya adalah pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan atau kelambatan
belajar. Sehubungan dengan itu, langkah-langkah yang perlu dikerjakan dalam
pemberian pembelajaran remedi meliputi dua langkah pokok, yaitu mendiagnosis
kesulitan belajar, dan memberikan perlakuan pembelajaran remedi. Diagonosis
kesulitan belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar siswa.
Kesulitan belajar dapat dibedakan menjadi kesulitan ringan, sedang dan berat. Kesulitan belajar ringan biasanya dijumpai
pada siswa yang kurang perhatian pada saat mengikuti pembelajaran. Kesulitan
belajar sedang dijumpai pada siswa yang mengalami gangguan belajar yang berasal
dari luar dirinya, misalnya faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal,
pergaulan. Kesulitan belajar berat dijumpai pada siswa yang mengalami ketunaan
pada diri mereka, misalnya tuna rungu, tuna netra¸tuna daksa, dan tuna grahita.
Teknik yang
dapat digunakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar antara lain: Tes prasyarat
adalah tes yang digunakan untuk mengetahui apakah prasyarat yang diperlukan
untuk mencapai penguasaan kompetensi tertentu sudah terpenuhi atau belum. Prasyarat
ini meliputi prasyarat pengetahuan dan prasyarat keterampilan. Tes diagnostik
digunakan untuk mengetahui kesulitan siswa dalam menguasai kompetensi tertentu.
Misalnya dalam mempelajari operasi bilangan, apakah peserta didik mengalami
kesulitan pada kompetensi penambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian. Wawancara
dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan siswa untuk menggali lebih
dalam mengenai kesulitan belajar yang dijumpai peserta didik. Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat secara cermat
perilaku belajar siswa. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui
jenis dan penyebab kesulitan belajar siswa.
Bentuk
Pelaksanaan Pembelajaran Remidi
Setelah
diketahui kesulitan belajar yang dihadapi siswa, langkah berikutnya adalah
memberikan perlakuan berupa pembelajaran remidi. Bentuk-bentuk pelaksanaan
pembelajaran remedial adalah sebagai berikut.
Pertama
adalah pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda. Pembelajaran
ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan materi, variasi cara
penyajian, penyederhanaan tes atau pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan
bilamana sebagian besar atau semua siswa belum mencapai ketuntasan belajar atau
mengalami kesulitan belajar. Pendidik
perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode dan/atau media
yang lebih tepat.
Kedua adalah pemberian bimbingan
secara khusus, misalnya bimbingan perorangan. Dalam hal pembelajaran klasikal siswa
yang mengalami kesulitan, perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa
pemberian bimbingan secara individual. Pemberian bimbingan perorangan merupakan
implikasi peran pendidik sebagai tutor. Sistem tutorial dilaksanakan bilamana
terdapat satu atau beberapa siswa yang belum berhasil mencapai ketuntasan.
Ketiga adalah memberikan tugas-tugas
latihan secara khusus. Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas
latihan perlu diperbanyak agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam
mengerjakan tes akhir. Siswa perlu diberi drill untuk membantu menguasai kompetensi yang
ditetapkan.
Keempat pemanfaatan tutor sebaya.
Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka
perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami kelambatan
belajar. Dengan teman sebaya diharapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar
akan lebih terbuka dan akrab.
Waktu pelaksanaan pembelajaran
remidi mempunyai beberapa alternatif. Pertanyaan yang timbul, apakah
pembelajaran remidi diberikan pada setiap akhir ulangan harian, mingguan, akhir
bulan, tengah semester, atau akhir semester. Ataukah pembelajaran remidi
diberikan setelah siswa mempelajari standar kompetensi atau kompetensi dasar
tertentu? Pembelajaran remidi dapat diberikan setelah siswa mempelajari komptensi
dasar tertentu. Namun, karena dalam
setiap standar kompetensi terdapat beberapa kompetensi dasar, maka terlalu sulit bagi pendidik untuk
melaksanakan pembelajaran remidi setiap selesai mempelajari kompetensi dasar tertentu.
Mengingat indikator keberhasilan belajar siswa adalah tingkat ketuntasan dalam
mencapai standar kompetensi yang terdiri dari beberapa kompetensi dasar, maka
pembelajaran remedial dapat juga diberikan setelah siswa menempuh tes standar
kompetensi yang terdiri dari beberapa kompetensi dasar. Hal ini didasarkan atas
pertimbangan bahwa standar kompetensi merupakan satu kebulatan kemampuan yang
terdiri dari beberapa kompetensi dasar. Mereka yang belum mencapai penguasaan standar
kompetensi tertentu perlu mengikuti program pembelajaran remidi. Hasil belajar
yang menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi melalui penilaian diperoleh dari
penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses diperoleh melalui
postes, tes kinerja, observasi, dan lain-lain, sedangkan penilaian hasil
diperoleh melalui ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir
semester.
Sitem
Tutor Sebaya
Istilah lain tutor sebaya adalah
peer tutoring. Ahli-ahli pendidikan yang memelopori tutor sebaya adalah Edward
L. Dejnozken dan David E. Kopel. Dalam American Education Encyclopedia disebutkan bahwa tutorial sebaya adalah sebuah prosedur siswa mengajar kepada
siswa lainnya. Karena siswa berperan aktif pada siswa lainnya, maka tipe
pelaksanaannya mempunyai beberapa jenis. Pertama, pengajar dan pembelajar
usianya sama. Kedua pengajar berusia lebih tua dari pembelajar. Ketiga dimunculkan pertukaran usia pengajar.
Muntasir (1985) mengemukakan
bahwa tutor berfungsi sebagai tukang atau pelaksana mengajar yang cara
mengajarnya telah disiapkan secara khusus dan terperinci. Untuk menghidupkan
suasana kompetitif, setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok
yang terbaik. Oleh karena itu, selain aktivitas anggota kelompok,
peran ketua kelompok atau tutor sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan
kelompok dalam mempelajari materi ajar yang disajikan. Ketua kelompok dipilih
secara demokratis oleh seluruh siswa. Misalnya, jika di suatu kelas terdapat 46
siswa, berarti ada 9 kelompok dengan catatan ada satu kelompok yang terdiri
atas 6 siswa. Sebelum diskusi kelompok terbentuk, siswa perlu mengajukan calon
tutor. Seorang tutor hendaknya memiliki kriteria memiliki kemampuan akademis di
atas rata-rata siswa satu kelas, mampu menjalin kerja sama dengan sesama siswa,
memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi akademis yang baik, memiliki
sikap toleransi dan tenggang rasa dengan sesama, memiliki motivasi tinggi untuk
menjadikan kelompok diskusinya sebagai yang terbaik, bersikap rendah hati,
pemberani, dan bertanggung jawab, dan suka membantu sesamanya yang mengalami
kesulitan.
Tutor
atau ketua kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memberikan tutorial kepada anggota terhadap
materi ajar yang sedang dipelajari,
mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis, menyampaikan permasalahan kepada guru
pembimbing apabila ada materi ajar yang belum dikuasai, menyusun jadwal diskusi bersama anggota
kelompok, baik pada saat tatap muka di kelas maupun di luar kelas, secara rutin
dan insidental untuk memecahkan masalah yang dihadapi, dan melaporkan
perkembangan akademis kelompoknya kepada guru pembimbing pada setiap materi
yang dipelajari.
Peran
guru dalam metode diskusi kelompok terbimbing model tutor sebaya hanyalah
sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, guru hanya melakukan
intervensi ketika betul-betul diperlukan oleh siswa. Fungsi lainnya adalah
dengan adanya tutor sebaya siswa yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak
malu lagi untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas.
Sebagaimana
diungkapkan oleh Muntasir bahwa dengan pergaulan antara para tutor dengan
siswanya mereka dapat mewujudkan apa yang terpendam dalam hatinya dan
khayalannya. Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk
membantu memenuhi kebutuhan siswa. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan
kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik
yang bekerja sama.
Tutor
sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya.
Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas
tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “tutor sebaya”,
peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan,
berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna.
Penjelasan tutor sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil
dibandingkan guru. Siswa melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan
orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab. Jadi sistem pengajaran
dengan tutor sebaya akan membantu siswa yang kurang mampu atau kurang
cepat menerima pelajaran dari gurunya. Kegiatan tutor sebaya bagi siswa
merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang sebenarnya merupakan
kebutuhan siswa itu sendiri. Baik tutor maupun yang ditutori sama-sama
diuntungkan, bagi tutor akan mendapat pengalaman, sedangkan yang ditutori akan lebih kreatif dalam
menerima pelajaran.
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas, dan hasil pengamatan penulis di di lapangan,
meyakinkan penulis untuk menerapkan tutor sebaya dalam pembelajaran di sekolah.
Hal ini akan memudahkan siswa untuk mengeluarkan pendapat atau pikiran
dan kesulitan kepada temannya sendiri daripada kepada guru, siswa lebih sungkan
dan malu. Hal tersebut dimungkinkan karena di antara siswa telah terbentuk
bahasa mereka sendiri, tingkah laku, dan juga pertanyaan perasaaan yang
dapat diterima oleh semua siswa.
Selain
peer tutoring, juga harus dilakukan peer assessment yaitu penilaian kegiatan
siswa oleh tutornya, tentu saja dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan
sebelumnya. Metode ini dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang
memiliki daya serap yang tinggi. Siswa tersebut mengajarkan materi dan latihan
soal kepada teman-temannya di kelas. Metode ini banyak sekali manfaatnya baik
dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang diajar.
Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi
pengarahan, bimbingan, atau penjelasan bila diperlukan. Meskipun demikian harus
diperhatikan oleh guru bahwa metode tutor sebaya memiliki kelemahan, yaitu
tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya dan tidak semua siswa dapat
menjelaskan kepada temannya dan tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan
temannya. Berdasarkan paparan di atas, program
tutorial pada dasarnya sama dengan program bimbingan, yang bertujuan memberikan
bantuan kepada siswa agar dapat mencapai hasil belajar secara optimal.
Hamalik (1990) menyatakan bahwa tutorial
adalah bimbingan pembelajaran dalam bentuk pemberian bimbingan, bantuan,
petunjuk, arahan, dan motivasi agar para siswa belajar secara efisien dan
efektif. Subyek atau tenaga yang
memberikan bimbingan dalam kegiatan tutorial dikenal sebagai tutor. Tutor
dapat berasal dari guru atau pengajar, pelatih, pejabat struktural, atau bahkan
siswa yang dipilih dan ditugaskan guru untuk membantu teman-temannya dalam
belajar di kelas. Siswa yang dipilih guru adalah teman sekelas yang memiliki
kemampuan lebih cepat memahami materi yang diajarkan, selain itu juga memiliki
kemampuan menjelaskan ulang materi yang diajarkan pada teman-temannya. Karena
siswa yang dipilih menjadi tutor ini dengan teman-temannya yang akan diberikan
bantuan itu sebaya, maka tutor tersebut sering dikenal dengan sebutan tutor
sebaya. Untuk menentukan seorang tutor ada beberapa kriteria yang harus
dimiliki oleh seorang siswa yaitu siswa yang dipilih nilai prestasi belajar
matematikanya lebih besar atau sama degan delapan, dapat memberikan bimbingan
dan penjelasan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan memiliki
kesabaran serta kemampuan memotivasi siswa dalam belajar.
Hal ini
sesuai dengan pendapat Noorhayati (2007) yang menyatakan bahwa dalam memilih tutor hendaknya memperhatikan
tutor dapat diterima oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa
tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepadanya, tutor dapat
menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program
perbaikan, tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan,
tutor mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu
dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya, siswa yang ditunjuk sebagai tutor
akan ditugasi membantu siswa yang akan mendapat program perbaikan, sehingga
setiap tutor harus diberikan petunjuk yang sejelas-jelasnya tentang apa yang
harus dilakukan. Petunjuk ini memang mutlak diperlukan bagi setiap tutor karena
hanya gurulah yang mengetahui kekurangan siswa, sedangkan tutor hanya membantu
melaksanakan perbaikan, bukan mendiagnosis.
Para tutor dilatih untuk mengajarkan bahan berdasarkan
silabus yang telah ditentukan. Hubungan antara tutor dengan siswa adalah
hubungan antar kakak-adik atau antar kawan, kekakuan yang ada pada guru agar
dihilangkan. Dalam kegiatan tutor sebaya, guru menjadi semacam staf ahli yang
mampu mengatasi kesulitan yang dihadapai siswa. Good ( dalam
Muntasir 1985) menyatakan bahwa tutor juga dapat menjadi alat untuk menimbulkan
motivasi pada pelajaran bermutu. Tutor ini juga memperoleh keuntungan berupa
nilai pelajaran yang bertambah baik, sama dengan yang ditutori, terutama kalau
fokusnya pada kemampuan kognitif.
Pendekatan
tutor sebaya adalah suatu pendekatan pembelajaran di mana yang melakukan
kegiatan pembelajaran adalah siswa itu sendiri. Siswa yang memiliki kemampuan
lebih cepat menyerap materi pelajaran dapat membantu siswa yang kurang cepat
menyerap materi pelajaran. Karena memiliki usia yang hampir sebaya, adakalanya
seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawannya yang
lain karena tidak merasa enggan atau malu untuk bertanya. Pendekatan tutor
sebaya ini cocok untuk mengajarkan matematika, terutama dalam menyelesaikan
soal-soal cerita operasi bilangan pecahan. Apabila pendekatan ini digunakan
oleh guru secara baik dengan memberikan bimbingan terlebih dahulu kepada siswa
yang akan menjadi tutor, maka pendekatan tutor sebaya ini dapat membantu siswa
dalam memahami materi operasi bilangan pecahan, sehingga kemampuan siswa dalam
menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan dapat ditingkatkan.
Hamalik (1998) menyatakan tahap-tahap kegiatan
pembelajaran di kelas dengan menggunakan pendekaatan tutor sebaya terdiri
dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan,
dan tahap evaluasi. Pada tahap persiapan guru melakukan kegiatan sebagai
berikut. Pertama, guru membuat program pengajaran satu pokok bahasan yang
dirancang dalam bentuk penggalan-penggalan sub pokok bahasan. Setiap penggalan
satu pertemuan yang didalamnya mencakup judul penggalan tujuan pembelajaran,
khususnya petunjuk pelaksanaan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Kedua, menentukan
beberapa orang siswa yang memenuhi kriteria sebagai tutor sebaya. Jumlah tutor
sebaya yang di tunjuk disesuaikan dengan jumlah kelompok yang dibentuk. Ketiga,
mengadakan latihan bagi para tutor. Dalam pelaksanaan tutorial atau bimbingan
ini, siswa yang menjadi tutor bertindak sebagai guru. Sehingga latihan yang
diadakan oleh guru merupakan semacam pendidikan guru atau siswa itu. Latihan di
adakan dengan dua cara yaitu melalui latihan kelompok kecil dimana dalam hal
ini yang mendapatkan latihan hanya siswa yang akan menjadi tutor, dan melalui
latihan klasikal, di mana siswa seluruh kelas dilatih bagaimana proses
pembimbingan ini berlangsung. Keempat, mengelompokan siswa dalam
kelompok-kelompok kecil yang yang terdiri atas 4-6 orang. Kelompok ini disusun
berdasarkan variasi tingkat kecerdasan siswa.
Pada tahap pelaksanaan guru memberikan penjelasan terlebih dahulu
tentang materi yang di ajarkan, siswa belajar dalam kelompoknya sendiri. Tutor
sebaya menanyai anggota kelompoknya secara bergantian akan hal-hal yang belum
dimengerti, demikian pula halnya dengan menyelesaikan tugas. Jika ada masalah
yang tidak diselesaikan barulah tutor meminta bantuan guru, dan curu mengawasi
jalannya proses belajar, guru berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok
yang lain untuk memberikan bantuan jika ada masalah yang tidak dapat
diselesaikan dalam kelompoknya. Pada tahap evaluasi, sebelum kegiatan pembelajaran
berakhir, guru memberikan soal-soal latihan kepada anggota kelompok (selain
tutor) untuk mengetahui apakah tutor sudah menjelaskan tugasnya atau belum, dan
mengingatkan siswa untuk mempelajari sub pokok bahasan sebelumnya di rumah.
Integrasi
Pembelajaran Remidi dengan Tutor Sebaya
Belajar adalah suasana hati. Hati yang senang membuat siswa mempunyai
kemauan dan motivasi yang tinggi untuk memahami konsep sehingga dengan cara
yang tidak memaksakan akan tercipta ketuntasan minimal, baik untuk siswa maupun
kelas. Belajar yang menyenangkan tersebut dapat dilakukan dengan model
pembimbingan tutor sebaya yang dilakukan dalam pembelajaran remidi. Secara umum
langkah yang ditempuh adalah (1) Dalam sebuah pembelajaran kelas tentukan
berapa banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar atau belum mencapai
ketuntasan minimal. (2) Dipilih dalam
kelas, siswa yang kemampuannya di atas rata-rata kelas dan bertugas sebagai
tutor bagi teman-teman dalam kelas yang masih mengalami kesulitan. (3) Dibuat kelompok dalam kelas yang
anggotanya 4-5 siswa dan merupakan
sisw-iswa yang belum mencapai ketuntasan belajar. (4) Ditentukan dalam kelompok
masing-masing satu orang tutor yang bertugas melakukan pembimbingan kelompok,
dan tutor terlebih dahulu mendapat penjelasan seperlunya dari guru sebagai
fasilitator. (5) Tutor melakukan pembimbingan berulang-ulang sehingga anggota
dalam kelompok betul-betul memahami konsep yang diberikan. (6) Tutor melakukan
tes sebagai langkah akhir dalam pembelajaran
yang soal-soal tes ditentukan dan koordinasikan dengan guru (7) Jika
dalam evaluasi masih ada anggota kelompok yang belum mencapai ketuntasan
belajar, maka tugas tutor adalah melakukan penjelasan secara remidi.
IMPLIKASI
YANG DIHARAPKAN
Model
pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran remidial dengan tutor sebaya berimplikasi pada
prestasi siswa terutama pada persoalan-persoalan analisis maupun problem
posing. Artinya, siswa yang sulit
menyelesaikan secara mandiri, dengan cara berkelompok yang dibimbing tutor teman dalam kelas dapat dilakukan
penyelasaiannya. Khusus yang berkaitan dengan problem posing adalah bagaimana
siswa dapat menyusun pertanyaan dan membuat soal berdasarkan data atau
permasalahan yang diberikan.
Menurut hasil penelitian Akrom (2006), Sitti Rahmawati (2006), Rofiqoh
Nurhayati (2009), Sobari Mizan (2006),
Ahmad Sudrajat (2008), dengan melakukan
modifikasi pembelajaran remidi dengan tutor sebaya hasil belajar siswa yang
ditunjukkan oleh skor ketuntasan individu maupun klasikal mengalami peningkatan secara signifikan. Meskipun ada
beberapa kendala yang harus dierhatikan oleh guru bahwa tidak semua pertanyaan
dapat dijawab oleh siswa dan tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan
kelompok-kelompok yang dibentuk dalam kelas.
DAFTAR
RUJUKAN
_________2008.
Pembelajaran Remedial. (online), (http://www,dikmenum.go.id,
diakses tanggal 9 Mei 2009)
Ahmad Sudrajat. 2008. Pembelajaran Remedial dalam KTSP.
(online), (http://ahmadsudrajat.wordpress.com , diakses 4
Mei 2009).
Arkom. 2004. Penerapan Metode Tutor Sebaya dalam Pembelajaran di SMK.
Makalah: Tidak
Dipubilkasikan.
Boon R. 2005.
Remidiation of Reading,
Spelling, and Comprehension. Sidney:
Harris Park
Departemen
Pendidikan Nasional, 2008. Sistem Penilaian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Panduuan Pembelajaran Remidial.
Jakarta: Depdiknas.
Djalil Aria dkk. 1997. Pembelajaran Kelas Rangkap. Jakarta : Depdikbud.
M. Saleh Muntasir, 1985. Pengajaran Terprogram.
Jogjakarta: Karya Anda.
PP Nomor 22 tahun 2006 : Standar Kompetensi Kelulusan Pendidikan Dasar
dan Menengah.
Rienties B, Martin
Rehm, and J Dijktra, 2005. Remedial
online Teaching in Theory and Practice, Netherland: Maastricht University Publ.
Rofiqoh Noorhayati, 2009. Meningkatkan kemampuan Siswa
dalam Menyelesaikan Soal-soal Cerita Operasi Bilangan Pecahan dengan
Menggunakan Pendekatan Tutor Sebaya pada kelas VIIA SMP Negeri 3 Palangga.
(online), (http://www.pendidikan-matematika.blogspot.com, diakses
tanggal 10 Mei 2009).
Sawali,2007. Diskusi Kelompok
Terbimbing Model Tutorial Sebaya. (online), (http://sawali.info/2007,
diakses tanggal 3 Mei 2009)
Sitti Rahmawati. 2008. Peningkatan
Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPA.7 terhadap Redoks dan Elektrokimia dengan
Menggunakan Sistem Tutor Sebaya. (online), (http://oke.or.id, diakses
tanggal 5 Mei 2008).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar